Kejari Dumai Pri Wijeksono saat bertemu saksi pelapor dugaan kasus korupsi di RSUD Dumai. (Foto : kredit RiauGreen)
JAKARTA – Kejaksaan Negeri (Kajari) Dumai memastikan akan memanggil saksi terkait dugaan korupsi pengadaan Moduler Operation Teater (MOT) di Rumah Sakit Umum Daerah Suhatman Mars Dumai, Minggu ini.
“Minggu ini dijadwalkan pemanggilan pihak Rumah Sakitnya,” tulis Kepala Kejaksaan (Kejari) Dumai Pri Wijeksono melalui jaringan pribadinya kepada Suarakejaksaan.com, Senin (22/12/2025).
Pri dimintakan tanggapannya terkait tertundanya proses penyelidikan kasus MOT di RSUD Suhatman Mars Dumai.
Kasus ini sudah dilaporkan ke Kajari Dumai oleh Ketua DPW LSM Mitra Riau, Martinus Zebua, beberapa bulan lalu.
Kasus ini berpotensi menimbulkan kerugian negara dalam jumlah miliaran rupiah.
Kerugian belum bisa dipastikan besarnya karena belum dilakukan penilaian dari lembaga resmi.
Sebagai saksi pelapor, Martinus Zebua sudah dua kali menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Dumai.
“Kejari Dumai melalui Kasie Pidsus Fredrik Daniel Tobing SH, telah meminta keterangan saya di Pekanbaru. Dan ini sudah yang kedua kalinya,” kata Martinus Zebua, Senin (22/18/2025).
Selain Martinus, Kajari Dumai juga telah memeriksa Sekretaris LSM Mitra Riau.
Selaku saksi pelapor, Martinus mengaku telah memberikan keterangan sejelas-jelasnya kepada penyidik.
“Keterangan kami telah jelas dan terang benderang saat dimintai keterangan oleh kasie pidsus kejari Dumai. Kini tinggal sikap tegas penyidik,” tantang Martinus Zebua.
Martinus mengaku bahwa pihak Kejaksaan Dumai akan memerika rekanan pengadaan barang dan jasa terkait proyek MOT ini yakni Hanif Faddini.
Namun, menurut sebuah informasi keberadaan Hanif Faddini tidak lagi di Pekanbaru. Sejak kasus MOT ini mencuat, Hanif Faddini dan keluarganya di kabarkan kabur ke luar daerah bahkan sempat ke Malaysia.
“Saya juga sempat mendengar, sejak kasus MOT mencuat, Hanif dan keluarga diduga “kabur ‘ ke Jakarta dan lanjut Ke Malaysia,” ungkap Martinus Zebua.
Sementara itu, Kasi Inteligen Carles Aprianto, dalam penjelasannya kepada media RiauGreen Dumai dan telah diizinkan dikutip Suarakejaksaan.com, menyatakan telah mengagendakan pemanggilan Direktur PT Hematech Nusantara Hanif Faddini minggu ini.
Ditanya tentang keberadaan Hanif Faddini sudah tidak lagi di Riau, Carles menegaskan pihaknya optimis akan bisa memanggilnya.
“Di manapun dia (Hanif Faddini ) berada meski kabur keluar negeri akan tetap kita panggil. Kemana dia mau kabur,” tegas Carles Aprianti.
Saksi Kunci
Hanif Faddini, Direktur PT Hetech Nusantara, adalah pemenang proyek pengadaan alat bedah Rumah Sakit Umum Dumai.
Hanif Faddini, adalah saksi kunci dalam proyek pengadaan alat bedah Rumah Sakit Umum Daerah Dumai.
Hanif Faddini, merupakan rekanan lama Rumah Sakit Umum yang dikenal dekat dengan hampir seluruh pegawai Rumah Sakit Umum Daerah.
Bukan hanya sekedar ramah, Hanif Faddini juga dikenal loyal dengan semua pegawai, apalagi dengan petinggi Rumah Sakit.
Informasi yang dirangkum dari beberapa sumber, Hanif Faddini setiap akhir tahun berbagi “bonus” dengan beberapa pegawai, bahkan membantu fasilitas pegawai yang akan liburan.
Selain itu, Hanif Faddini juga kerap membantu fasilitas pegawai untuk pendidikan maupun pelatihan.
Hubungan Hanif Faddini mulai retak dengan pihak Rumah Sakit Umum Daerah sejak dimulainya proyek pengadaan alat bedah tahun 2024 lalu.
Besarnya sukses fee yang diminta pihak oknum, menjadi pemicu pecahnya hubungan Hanif Faddini dengan pihak RSUD Dumai.
Hanif Faddini disebut gerah dengan tingkah pejabat Rumah Sakit maupun pejabat tinggi pemerintah kota Dumai, yang kerap menghubungi dan meminta dukungan fasilitas dari dirinya. Sementara “sukses fee” mereka juga minta.
Puncaknya, pertikaian antara pejabat Rumah Sakit dan Hanif Faddini terjadi menjelang hari raya tahun kemaren, didengar salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat dan langsung melaporkan kejadian tersebut.
Kejaksaan Negeri Dumai sudah berulang kali memanggil dan memeriksa beberapa pejabat maupun pegawai Rumah Sakit yang ditengarai terlibat dalam proyek pengadaan alat bedah jenis Moduler Operation Teater ( MOT) itu. Mulai dari Plt Dirut RSUD, kabag umum, kabag program dan beberapa perawat yang bertugas di ruangan operasi. (*)
Awaluddin Awe











Komentar